Artikel di media,

Depok (menuju) Kota Layak Anak

19.17 Ena Nurjanah 0 Comments

            Satu slogan yang terdengar begitu indah, hingga mampu menentramkan hati orangtua manapun yang mendengarnya. Satu komitmen untuk menciptakan kota di mana setiap anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, maupun spiritualnya. Tidak ada kekerasan baik fisik, psikis, seksual, ekonomi, ataupun berbagai bentuk tindak kekerasan lainnya.  
Anak dapat bebas bermain di taman-taman bermain yang tersebar disetiap  sudut kota tanpa ada rasa takut akan ada yang mengganggu atau menculiknya. Anak memiliki wadah untuk  dapat mengekspresikan minatnya dalam bidang olahraga, seni, dan berbagai bentuk aktivitas lain yang mengasah kreativitas mereka.
Ada banyak perpustakaan dengan buku-buku yang luar biasa banyak dan menarik sehingga dapat mendorong minat mereka untuk membaca. Anak tidak lagi hanya kecanduan main game  online di warnet karena telah begitu banyak sarana bermain di luar ruangan atau di dalam gedung yang dapat mereka gunakan dengan gratis.
Anak  bebas menggunakan waktu luangnya, anak bebas bermain dengan teman-teman sebaya tanpa harus dipaksa para orangtuanya untuk mengikuti berbagai les yang tidak diinginkannya. Orangtua yang sangat mengerti keadaan anaknya, selalu penuh perhatian terhadap kebutuhan fisik, mental, dan spiritual anak-anaknya.  
Anak senang datang ke sekolah untuk menimba ilmu dari para gurunya yang tidak pernah berkata kasar, yang tidak pernah mengecap mereka dengan perkataan tak bernurani seperti bodoh!, tolol! Pada saat sang murid tidak bisa mengerjakan tugas. Para guru pun sangat memahamai kondisi psikologis tiap anak, mereka tidak menghukum muridnya dengan kekerasan, dan mereka selalu siap untuk menjadi orangtua yang mengayomi peserta didiknya selama di sekolah. Para guru selalu memberi motivasi kepada muridnya dengan cara yang menggugah dan luar biasa. Mereka senantiasa sabar, dan para guru ini pun dicintai murid-muridnya sehingga murid-murid pun senantiasa ingin meniru perilaku baik gurunya.
Murid tidak melakukan ’bully’ satu sama lain, serta masih banyak lagi yang bisa diceritakan mengenai bagaimana kondisi sebuah kota yang layak bagi anak.
            Mungkin para pembaca akan berpikir bahwa saya seperti sedang berkhayal dan itu semua hanya angan-angan belaka. Tapi sebenarnya memang itulah yang dicita-citakan oleh Peraturan Daerah (Perda) tentang penyelenggaraan kota layak anak yang telah di tuangkan dalam Perda no.15 tahun 2013. 
Sebuah cita-cita yang sangat mulia, adakah yang ingin menolaknya?
Saya yakin tidak akan ada satu orangtuapun yang hendak menolak akan hadirnya kondisi ideal yang telah saya jabarkan di atas. Sudah sewajarnya pula tidak ada yang  menolak  Perda kota layak ini. 
Perda yang memuat banyak sekali poin penting yang menjadi tugas tak terpisahkan dari tugas hampir seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di kota Depok. Sungguh luar biasa jika Perda ini bisa terimplementasikan secara maksimal. 
Hampir semua hal terkait dengan anak dan hak-haknya terdeskripsikan dalam Perda tersebut. Bahkan sanksi terhadap para pelanggar hak-hak anak pun tertuang di dalamnya. Apa yang menjadi amanah dari Konvensi Hak-hak Anak Perserikatan Bangsa Bangsa  (KHA PBB)  agar  hak  anak  terpenuhi dan anak mendapat perlindungan yang maksimal menjadi perhatian penuh dalam pembuatan Perda tersebut.
            Saya yakin, pembaca pasti banyak yang bertanya-tanya dengan impian yang terkesan terlalu ‘muluk-muluk’ di atas. Mengapa? Karena pada kenyataannya Kota Depok pada saat ini masih jauh dari apa yang sebenarnya ia cita-citakan. Kekerasan terhadap anak kerap terjadi dimana-mana dan dalam bentuk yang sangat beraneka ragam—bervariasi.  Kasus-kasus kekerasan ini menjadi sesuatu  yang paling mencolok dan menimbulkan pertanyaan banyak pihak sekaligus juga bersifat kontra produktif dengan keberadaan Depok sebagai Kota Layak Anak .
Kekerasan yang dialami atau  bahkan yang dilakukan oleh anak hampir menyamai dengan kekerasan yang dilakukan oleh para orang dewasa. Semakin hari jumlah  kekerasan yang terjadi tidaklah berkurang. Kita bahkan sering  melihat kasus kekerasan kembali terjadi melalui pemberitaan di berbagai media. 
Kalau toh tidak berbicara kekerasan, rasa-rasanya banyak juga sarana/ fasilitas umum bagi anak yang kondisinya masih jauh dari kata memadai. Anak-anak seperti kekurangan arena dan sarana untuk mengeksplorasi diri atau untuk sekedar bermain baik itu secara bebas, aman, dan gratis.
Masih kita temui sekolah yang membuat siswanya merasa takut. Takut masuk ke kelas karena gurunya galak, suka menghukum hanya karena sebuah kesalahan kecil, takut karena ada teman yang suka memalak, hingga teman yang suka melakukan bullying.
Sarana untuk berolahraga dan melakukan kegiatan seni juga masih sangat   minim sehingga larilah anak-anak secara berbondong-bondong menjadi pelanggan warnet 24 jam untuk bermain game online. Jika mau disebutkan lagi, masih sangat banyak kondisi-kondisi yang dialami, dirasakan, dan yang dihadapi anak  yang rasanya  masih begitu jauh dari kondisi ideal sebuah kota yang layak anak.
Menciptakan Kota Layak Anak
Satu hal yang bisa kita yakini adalah bahwa ketika pemerintahan Kota Depok ingin mencanangkan Depok (menuju) Kota Layak Anak, maka semua hal ideal di atas tentunya akan menjadi PR bagi pemerintah. Namun jangan dilupakan juga bahwa anak  menjadi  tanggung jawab semua pihak, dengan demikian penegakan Perda Kota Layak Anak pun menjadi tugas bagi semua pihak termasuk orangtua, keluarga, pendidik, masyarakat luas, serta dunia usaha.  
Di atas itu semua, ada satu hal atau peranan yang tidak bisa digantikan  oleh pihak manapun juga. Hal itu adalah bahwasannya terwujudnya kota layak anak akan sangat dipengaruhi oleh keberpihakan pemerintahan Kota Depok dalam mewujudkan berbagai  kebijakan, sarana dan prasarana, serta berbagai perangkat lainnya yang menunjang kesuksesan terbentuknya sebuah kota layak anak.
Namun sudah seharusnya tidak dilupakan bahwa peran dan tanggung jawab orangtua sebenarnya memiliki andil terbesar dibandingkan dengan peran-peran pihak lain secara langsung terhadap anak. Hal ini seharusnya bisa disadari oleh para orangtua. Orangtua berkewajiban untuk  memenuhi kebutuhan anak dan itu tidak hanya pemenuhan kebutuhan materi, tidak hanya terpenuhinya  kebutuhan yang bersifat kebendaan,  tetapi juga kebutuhan anak akan pemenuhan  aspek psikologis, moral dan spiritual.
Seorang anak sangat membutuhkan perhatian penuh dari orangtuanya. Selain itu anak juga membutuhkan kondisi di mana ia bisa diterima apa adanya dengan segala tingkat kecerdasannya, tinggi rendahnya tingkat intelegensinya, juga pintar tidaknya anak tersebut dalam suatu bidang tertentu. Anak diterima perasaannya sehingga dia menjadi anak yang bisa menerima keadaan dirinya dengan damai, didengarkannya segala keluh kesahnya dan diobatinya segala kegundahannya sehingga ia akan merasa nyaman  ketika  ia berada di rumah.
Orangtua seharusnya mengerti akan kebutuhan psikologis sang anak, begitu juga dengan kebutuhan anak akan nilai-nilai moral, spiritual. Orang tua tidak begitu saja membiarkan anak lepas kontrol tanpa kendali moral dan agama. Hal  tersebut sangat penting bagi anak  agar ia tahu batasan kehidupan sosial yang benar dan yang salah, dan mereka pun memiliki rambu-rambu dalam kehidupannya.
Berawal dari sebuah keluarga yang dapat menjalankan fungsinya dengan benar, akan berdampak positif dalam kehidupan anak di luar rumah baik di sekolah maupun di masyarakat. Jika semua itu juga didukung oleh peran serta pemerintah Kota Depok dalam pemenuhan hak-hak anak. Pemerintah kota Depok yang mengedepankan pemenuhan  kebutuhan  sarana, prasarana dan fasilitas lain yang pro-anak , tentunya dengan melibatkan peran serta dunia usaha / pihak swasta yang ada di kota Depok, maka slogan Depok kota layak anak akan benar-benar dapat terealisasi secara nyata. Pada akhirnya  indahnya slogan tersebut  akan benar-benar bisa  dirasakan oleh semua lapisan masyarakat di kota Depok.

Penulis: Ena Nurjanah S.Psi., M.Si.
Sekretaris P2TP2A Kota Depok
Artikel ini pernah dimuat Harian Radar Depok, edisi jum'at-sabtu/11-12 April 2014


You Might Also Like

0 komentar: