Apa Cita-citamu? Begini Cara Memaksimalkannya!



Jika anak TK ditanya mengenai cita-citanya, tanpa perlu berpikir panjang mereka langsung memberikan jawabannya. Jawaban mereka  sesuai dengan gambaran sosok yang melekat dalam benak mereka.  

"Saya mau jadi Dokter!"
"Aku ingin jadi Pilot!"
"Aku mau jadi Polisi!" 

Begitulah  jawaban spontan mereka. Saat ditanya cita-cita, anak TK akan langsung membayangkan diri mereka seperti sosok idola mereka, dengan pakaian seragam tertentu yang mereka lihat dan ketahui. 

Ketika SD, anak-anak pun masih bisa menjawab pertanyaan cita-cita dengan mudah, walaupun jawaban mereka sudah mulai ada unsur suka dan tidak suka terhadap pilihannya. Tidak seperti saat TK, yang mana jawaban mereka hanya berdasarkan imajinasi,  tanpa pernah memikirkan suka atau tidak terhadap bidang pekerjaan tersebut.

Memasuki usia SMP, jawaban mereka  masih lumayan lancar ketika ditanya tentang cita-cita. Meskipun biasanya mereka mulai berpikir, melihat kemampuan yang mereka miliki. "Bisakah saya menjadi dokter? Menjadi insinyur?"

Saat duduk di bangku SMA, jawaban bisa menjadi berbeda. Ketika remaja ditanya cita-cita, kebanyakan dari mereka justru kebingungan. "Saya mau jadi apa ya?"

Cita-cita yang dulu mereka sebutkan ketika kecil, sekarang tidak lagi terasa seyakin saat mereka duduk di bangku TK. Bahkan, biasanya  mereka memikirkan ulang akan cita-citanya. Kira-kira apa yang layak dan pantas buat mereka? Tidak lagi apa yang mereka mau. Karena ternyata, yang mereka cita-citakan saat TK tidak selamanya sejalan dengan perkembangan kemampuan, kapasitas, kompetensi, bahkan minat mereka.

Saat sudah masuk perguruan tinggi, para pelajar yang sudah menjadi mahasiswa justru banyak yang kebingungan dengan cita-cita mereka. Bahkan tidak  sedikit dari mereka yang sudah kuliah di universitas negeri ternama, masih belum yakin dengan cita-citanya. Belum yakin dengan pilihan jurusan yang mereka ambil. 

Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa ada anak yang sejak kecil berprestasi, namun ketika di bangku kuliah justru mengalami banyak kendala dengan pendidikannya. Bukan karena mereka tidak mampu secara intelektual tetapi mereka mengalami hambatan yang sifatnya non-akademis. Mereka menjalani perkuliahan dengan berat dan penuh beban, karena mereka menjalani perkuliahan untuk bidang studi yang mungkin tidak mereka sukai. 

Ada yang tetap berhasil, namun tentu saja dengan jerih payah yang luar biasa. Bahkan, yang cukup ironis, mereka berhasil menjadi sarjana namun tidak berminat untuk bekerja sesuai dengan jurusannya.

Saat Memulai Dari Nol

Saat lulus perguruan tinggi adalah saatnya memasuki dunia cita-cita masa kecil. Namun, pada kenyataannya justru menjadi saat-saat yang menegangkan bagi para lulusan perguruan tinggi. Mereka sepertinya harus mulai dari nol dalam menentukan pekerjaan. Bisa jadi pekerjaan pilihan mereka tidak lagi sama dengan cita-cita masa kecil mereka (terkecuali untuk lulusan sekolah kedinasan yang sudah pasti penyaluran bagi lulusannya).

Jadi, jangan heran kalau kita seringkali mendapatkan seseorang yang pekerjaannya berbeda dengan jurusan yang mereka tempuh saat dibangku kuliah. Misalnya, pegawai bank dengan latar belakang ilmu pertanian, teknik industri, dll; Pegawai IT dengan latar belakang ilmu kimia, serta masih banyak contoh lainnya.

Walaupun tidak bisa dipungkiri, ada faktor lain diluar diri mereka yang membuatnya tidak bekerja sesuai dengan jurusannya. Contohnya adalah karena terbatasnya lahan pekerjaan yang sesuai, atau mereka memilih jurusan kuliah hanya untuk memenuhi keinginan orangtua, serta faktor eksternal lainnya. 

Tulisan ini akan lebih memfokuskan pada faktor-faktor internal yang masih bisa dibenahi agar setiap anak mampu meraih cita-citanya dengan pilihan matang, penuh kesadaran akan potensi, minat dan bakatnya.

Tidak ada maksud untuk menyalahkan kondisi yang ada. Namun, ada hal yang patut untuk kita cermati, mengapa fenomena seperti itu terlalu banyak terjadi di tengah-tengah kita. Seharusnya, yang namanya penyimpangan itu jumlahnya kecil saja, jangan mengalahkan keumuman yang semestinya.

Berbagai Keluhan  mengenai ketidakcocokan biasanya baru bisa dirasakan dan disuarakan ketika memasuki usia remaja akhir. Ketika cara berpikir sudah mulai matang, keberanian berpendapat sudah mulai muncul seiring dengan pertambahan usia.

Kita tahu bahwa orang yang telah dewasa akan berusaha mendapatkan pekerjaan. Bekerja sebagai wujud dari kemandirian ekonomi. Namun demikian,  kemandirian ekonomi tidak bisa dicapai secara tiba-tiba, bahkan bisa jadi sebagai proses terberat yang harus dilalui orang dewasa.

Orang dewasa harus menghidupi dirinya sendiri, dengan demikian mencari pekerjaan adalah sebuah kemestian. Bekerjanya seseorang memiliki banyak nilai penting bagi dirinya. Dengan bekerja seseorang menjadi lebih berdaya, lebih percaya diri, lebih bisa diterima di masyarakat, lebih dihargai, dan yang terpenting lebih bisa mengatur kehidupannya menjadi lebih baik. 

Menengok Barat

Sejak tahun 1990an dunia barat menyadari peran penting pemahaman perkembangan karir sejak usia dini. Hal ini tergambar jelas dalam dunia pendidikan barat. Mereka gencar mengintegrasikan pemahaman perkembangan karir dalam dunia pendidikan mereka. Harapannya selepas SMA anak-anak mereka mempunyai kemampuan menentukan pilihan karir secara matang. Apakah mereka akan magang, ikut kursus, lanjut kuliah, atau bekerja.

Negara-negara barat telah merancang program-program terbaik agar anak-anak mereka memiliki kesadaran karir sejak dini. Pemahaman pentingnya perkembangan karir dalam dunia pendidikan dibuat dengan cara yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Hal ini penting ditekankan, karena banyak yang salah memahami  bahwa mengenalkan anak dengan dunia karir diangap seolah-olah menuntut anak dengan tanggung jawab yang terlalu dini. 

Di Indonesia, usaha dunia pendidikan mengenalkan anak tentang karir sebenarnya sudah ada. Bisa dilihat, sejak TK anak-anak sudah diperkenalkan dengan berbagai jenis pekerjaan. Ketika SD, SMP dan SMA ada kegiatan career day, career fair, visiting profesional, dan lain sebagainya. Bahkan, bimbingan karir juga sudah harus ada sejak di tingkat SMP. Namun, sangat disayangkan pemahaman perkembangan karir  belum utuh dan menyeluruh sehingga belum memberi hasil yang signifikan bagi anak-anak Indonesia.

Perkembangan Karir Menurut Para Ahli

Perkembangan karir bukanlah pencapaian tiba-tiba yang terjadi setelah  dewasa. Perkembangan karir adalah proses berkelanjutan sepanjang hidup seseorang yang dimulai sejak usia dini. Masa remaja menjadi jembatan terbaik yang bisa mengantarkan masa kanak-kanak ke masa dewasa yang mandiri .

Berbagai aspek penting dari perkembangan karir terjadi sepanjang masa usia sekolah. Perkembangan karir sesungguhnya berproses selaras dengan tahapan perkembangan lainnya, seperti tahap perkembangan kognitif, moral, psikososial dan lainnya.

Saat dewasa, pilihan karir yang sesuai akan sangat  berpengaruh bagi kehidupan seseorang secara keseluruhan.

Adapun tahap awal dalam perkembangan karir adalah membangun kesadaran karir sejak dini kepada anak. Anak diajak untuk bisa memahami karakter pribadinya, minat, bakat, maupun ketrampilan yang dikuasainya, bisa menghormati semua jenis pekerjaan yang dilakukan secara profesional, dan mengetahui  keterkaitan antara prestasi yang dia miliki dengan cita-citanya kelak.

Tahap eksplorasi merupakan fondasi kedua yang harus dibangun oleh para orangtua dan guru. Anak harus mendapatkan kesempatan sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya untuk mengeksplorasi berbagai jenis pekerjaan maupun kegiatan. Tujuannya agar anak benar-benar mampu menemukan kecocokan antara minat dan apa yang ia cita-citakan. Minat itu sendiri seringkali dipengaruhi oleh pengalaman anak baik itu pengalaman dari rumah, keluarga besar, tetangga, sekolah atau lingkungan sekitarnya. 

Peran Orangtua bagi Perkembangan Karir Anak

Peran orangtua sangat signifikan bagi perkembangan karir anak. Orangtua memiliki kesempatan paling besar dalam memberikan informasi tentang dunia kerja/karir bagi anak. Peran orangtua juga sangat efektif dalam membuat perencanaan dan menentukan cita-cita yang diinginkan anak. Orangtua harus menyadari bahwa perannya adalah mengantarkan anak menjadi arsitek bagi masa depan anak itu sendiri dan bukan memaksakan pilihan orangtua untuk anak.

Peran yang bisa dilakukan oleh Orangtua antara lain:
1) Bantu anak memahamai minat, kapasitas, dan nilai yang ia miliki
2) Diskusi tentang  pekerjaan, apa  saja jenisnya, apa yang dilakukan, syarat menjadi pekerja, dan lain sebagainya, dengan cara yang menyenangkan bagi anak
3) Bantu anak menentukan cita-cita dengan mencarikan informasi sebanyak-banyaknya tentang Perguruan Tinggi dan karir
4) Ajarkan anak bahwa pilihan pekerjaan harus sesuai dengan nilai dan punya etika
5) Bersikap hati-hati agar tidak merendahkan suatu pekerjaan maupun pekerjanya
6) Memberi kesempatan pada anak melakukan pekerjaan di rumah atau di lingkungannya
7) Latih anak memiliki ketrampilan mengambil keputusan
8) Dorong anak  membuat perencanaan pendidikan maupun karirnya

HUKUMAN bagi ANAK, Benarkah Diperlukan?


Menghukum anak dalam Parenting, apakah sebuah langkah yang tepat untuk diambil? 
Apa yang harus diketahui dan diperhatikan orangtua mengenai 'hukuman' dalam mendidik anak?



Berikut cerita selengkapnya,

"Hukuman", kata yang sering kali kita dengar, dalam konteks apapun itu. Konteks yang paling dekat dan kerap kali kita temui adalah tindakan pemberian hukuman yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya di rumah atau seorang guru yang menghukum  muridnya di sekolah. Dalam konteks yang lebih luas adalah tindakan hukuman yang diberikan oleh seorang hakim kepada sang terdakwa di meja pengadilan. 

Hukuman yang dilakukan hakim kepada terdakwa adalah tindakan yang sudah ada aturannya dalam undang-undang. Pemberian hukuman dilakukan dalam konteks negara hukum. Hukum harus ditegakkan untuk melindungi seluruh warga negaranya.

Hukuman yang dilakukan di rumah ataupun disekolah jelas berbeda dengan hukuman dalam konteks negara hukum tadi. Hukuman yang dilakukan di rumah maupun di sekolah seringkali justru terjadi tidak dilandasi dengan aturan yang dibuat sebelumnya. Hukuman yang diberikan lebih sering  bersifat reaktif, tidak terencana dan tidak ada ukuran/batasan yang jelas mengenai berat-ringannya hukuman. Hukuman yang dilakukan di rumah maupun di sekolah biasanya dilakukan dengan alasan sebagai upaya mendidik dan mengasuh anak.  Denga kata lain "Hukuman" menjadi salah satu strategi para orangtua dan guru dalam mendidik anak atau murid. 

Menjadikan "hukuman" sebagai salah satu cara dalam mendidik anak, nampaknya sudah menjadi suatu yang  lumrah di kalangan masyarakat.  Menghukum anak terlihat menjadi sesuatu yang wajar, bisa diterima begitu saja, tidak perlu lagi mencari alasan mengapa harus menghukum dan tidak perlu dipikirkan dampaknya. Hukuman menjadi 'cara pintas' mendidik anak.

Tindakan menghukum yang dilakukan oleh  orang tua maupun guru biasanya mulai dari tindakan verbal seperti meneriaki, memarahi, dll; maupun hukuman fisik seperti memukul, menampar, dll.  Mulai dari hukuman yang kadarnya ringan hingga hukuman tingkatan yang 'lebih berat'.

Satu hal yang sudah pasti terjadi ketika anak mendapat hukuman adalah bahwa hukuman akan meninggalkan bekas pada anak, baik fisik maupun psikis. Tentu saja dengan kualitas yang sangat beragam tergantung dari apa yang dirasakan maupun yang dipersepsikan oleh si anak yang mendapat hukuman tersebut.

Dalam Undang-undang Perlindungan anak no.35 tahun 2014, dalam rangka memberikan perlindungan maksimal bagi anak diantara isi undang-undang tersebut adalah negara melindungi setiap anak Indonesia dari tindakan kekerasan baik fisik maupun psisik. Pelaku tindakan kekerasan akan mendapat sanksi hukuman berupa pemidanaan maupun denda. Bahkan jika pelakunya adalah orang tua, guru, pendidik, keluarga maka hukuman bisa ditambah sepertiga dari hukuman yang diberikan.

Masyarakat yang selama ini permisif dengan pemberian hukuman cenderung menjadi resah, karena merasa kesulitan dalam mendidik anak-anak mereka.  Gencarnya sosialisasi Undang-undang Perlindungan anak justru membuat banyak orang tua, guru, maupun masyarakat yang menjadi kebingungan bahkan ada yang ketakutan. Kenapa? karena  tindakan menghukum anak yang memberi dampak fisik maupun psikis justru akan menjerat mereka ke meja hijau. Para guru banyak yang mengeluh. Mereka merasa kesulitan untuk mendidik murid-murid mereka yang mereka katakan "nakal". Mereka tidak lagi bisa berlaku keras (kasar) terhadap murid-murid mereka, karena perbuatan mereka bisa diadukan ke kepolisian karena dianggap telah melakukan tindakan kekerasan fisik/psikis terhadap anak.

Para orangtua maupun guru sering berdalih bahwa dulu mereka sering mendapat hukuman namun tidak ada masalah bagi mereka, tidak ada yang kemudian mendapat sanksi hukum, bahkan mereka merasa menjadi semakin baik dengan diberikan hukuman oleh orang tua atau guru mereka. Mengapa sekarang mereka tidak boleh menghukum anak atau murid mereka? Padahal " kenakalan" anak sekarang sudah sangat kelewatan.

Dalam mendidik sesungguhnya banyak sekali metode yang bisa dilakukan. Hukuman hanyalah salah satu jenis dari cara mendidik yang sebaiknya tidak dilakukan, tidak menjadi prioritas, atau dilakukan tapi mengkombinasikannya dengan metode lain secara  tepat.  Jadi, para pendidik seharusnya tidak kehabisan akal dalam memberikan didikan yang tepat dan bermartabat bagi anak. 

Kondisi dulu dan sekarang ternyata memang tidak bisa disamakan. Banyak faktor yang membuat kondisinya menjadi berbeda. Faktor terpenting dari perubahan paradigma tentang anak adalah saat Indonesia meratifikasi kebijakan dunia dalam hal memberikan perlindungan bagi anak dari berbagai bentuk kekerasan. Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) PBB tahun 1990. Sebagai konsekuensi dari meratifikasi KHA maka Indonesia memiliki kewajiban untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkandung dan atau memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak anak  yang diakui di dalam KHA. Wujud nyata dari ratifikasi KHA adalah Indonesia telah membuat UU Perlindungan Anak yang menjadi landasan hukum bagi semua pihak dalam memperlakukan anak dengan baik dan tepat.


"Hukuman" dari Sudut Pandang Para Ahli

Alasan utama para orang tua atau guru memberikan  hukuman pada anak adalah agar anak tidak mengulangi perbuatannya atau sebisa mungkin  menghilangkan perilaku buruk tersebut. Menghukum sebagai cara mereka mendidik anak dan murid mereka.

Para pakar teori belajar seperti Skinner dan Thorndike memiliki pendapat yang sama tentang efektivitas hukuman. Menurut mereka hukuman tidak akan menurunkan peluang terulangnya perilaku yang tidak diinginkan. Walaupun hukuman bisa menekan munculnya perilaku yang tidak diharapkan selama hukuman diterapkan, namun hukuman tidak akan melemahkan perilaku tersebut.

Skinner sangat menentang penggunaan hukuman sebagai cara untuk menghilangkan perbuatan yang tidak di kehendaki, ada beberapa alasan yang beliau kemukakan, yaitu:

  1. Hukuman hanya menekan perilaku, namun ketika ancaman hukuman dihilangkan, tingkat perilaku akan kembali sepertri semula. Jadi, hukuman hanya akan memberikan efek temporer.
  2. Hukuman akan menyebabkan efek samping emosional yang buruk. Hukuman hanya akan menimbulkan rasa takut. Ketakutan terhadap semua hal yang menyebabkan ia  mendapat hukuman.
  3. Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan anak, bukan apa yang seharusnya dilakukan. Hukuman sesungguhnya tidak memberikan pelajaran baru bagi si anak, kecuali hanya larangan untuk melakukan perbuatan buruk tersebut. Dengan demikian orangtua harus memberi penjelasan lagi mengenai alasan-alasan menghukum anak dan menyampaikan kepada anak apa yang seharusnya dilakukan.
  4. Pemberian hukuman sama artinya dengan memberikan pembenaran atas tindakan menyakiti pihak lain. Ketika seorang anak dipukul, maka ia belajar bahwa dalam situasi tertentu anak pun boleh melakukan tindakan memukul.
  5. Perilaku yang sebelumnya diberi hukuman dikemudian hari  tidak lagi mendapat hukuman, akan membuat anak menganggap bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan.
  6. Hukuman akan menimbulkan agresi baik bagi yang memberi hukuman maupun pihak yang menerima hukuman
  7. Hukuman sering  kali tidak meninggalkan perilaku buruk melainkan menggantinya dengan perilaku buruk yang lainnnya.


End Point:

Para ahli ada juga yang berpendapat bahwa hukuman masih bisa dilakukan dengan kondisi sangat terpaksa. Biasanya diberikan untuk anak dengan perilaku yang sangat buruk dan perilakunya cenderung membahayakan orang lain dan dirinya sendiri.

Perlu dingat bahwa hukuman adalah memberikan konsekuensi negatif kepada anak yang melanggar aturan atau melakukan perbuatan yang buruk. Tujuan pemberian hukuman agar anak tersebut mengetahui perilakunya yang salah.

Oleh karena itu, jika hukuman diberikan tanpa disertai penjelasan, maka anak hanya tahu perilaku yang tidak boleh dilakukannya tapi tidak pernah tahu perilaku yang seharusnya dilakukan.

Pastikan pula bahwa hukuman tidak pernah dilakukan dalam bentuk menyakiti (secara verbal maupun fisik). 


Pemberian hukuman juga harus diseimbangkan  dengan memberikan pujian dan penghargaan terhadap perilaku baik yang telah dilakukan anak.

Cara Mengatasi Anak Bermasalah



Diawali dengan sebuah kisah :

Pada suatu masa, hiduplah tiga orang pebisnis. pebisnis pertama adalah seorang yang sangat keras, yang kedua sangat lemah, dan yang ketiga adalah pebisnis yang tegas tapi baik hati.

Suatu Ketika mereka mendapati pegawai mereka lupa mematikan mesin foto kopi pada hari libur kerja. Reaksi berbeda ditemukan pada ketiga pebisnis tersebut.

Pebisnis pertama mengatakan : "kamu keterlaluan, sangat tidak bertanggung jawab!", katanya lagi "kamu tidak boleh  istirahat selama satu minggu!".

Pebisnis kedua ketika mengetahui hal itu hanya berguman pada dirinya sendiri "seharusnya saya tidak melihat peristiwa ini, inginnya saya punya  pegawai seperti saya, semoga saja tagihan listrik saya tidak membengkak".

Pebisnis ketiga berkata kepada pegawainya:" Saat saya tahu bahwa mesin foto kopi tidak dimatikan ketika libur kerja, saya merasa sangat kecewa karena hal itu akan membuat tagihan listrik saya meningkat. Jika hal ini terulang kembali saya akan meminta kamu membayar kelebihan tagihan listrik ".

Selang waktu setelah dua tahun...

Pebisnis yang terlalu keras dan terlalu lemah bangkrut perusahaannya. Mengapa bisa terjadi? Karena pebisnis yang terlalu keras terus menerus mencari pegawai baru.  Para pegawainya takut dengan majikanya, mereka tidak tahan berlama-lama bekerja dengan majikan yang terlalu keras.

Sebaliknya dengan pebisnis yang sangat lemah, pegawainya tidak pernah berhenti. Ia tidak perah takut dengan majikanya. Tapi, pegawai ini sangat tidak suka dengan majikannya. Dia menganggap majikannya sebagai orang yang gampang dipengaruhi. Semakin lama, pegawainya semakin malas, ia datang terlambat, menghabiskan waktu bercanda lewat email dengan temannya mentertawakan kelakuan majikannya dan dia pun tidak pernah mematikan mesin fotokopi disaat libur kerja. Akhirnya perusahaanpun bangkrut.

Bagaimana dengan pebisnis yang tegas dan baik hati? Sangat disayangkan ternyata si pegawainya selalu lupa mematikan mesin hingga tiga kali. Dan si pegawai harus membayar kelebihan biaya listrik. Setelah tiga kali kejadian berulang, akhirnya ia tidak pernah lupa lagi untuk mematikan mesinnya. Pada akhirnya perusahaanpun bisa tumbuh berkembang. Pebisnis tersebut akhirnya memiliki ratusan pegawai yang rajin bekerja. Dan tahukah anda? Pegawai pertamanya yang 3 kali lupa mematikan mesin berkat arahan, bimbingan dan dorongan majikannnya akhirnya menjadi pebisnis baru yang sukses.

Sebuah Kerjasama? Apakah Hanya ada dalam cerita?

Sebenarnya cerita tersebut bisa juga terjadi dalam sebuah keluarga. Terutama dalam kaitannya dengan hubungan antara orangtua dan anak dalam menerapkan pengasuhan. Ada orang tua yang menerapkan metode pengasuhan yang terlalu keras (authoritarian), ada yang terlalu lemah (permissive), dan ada juga yang tegas tetapi baik hati (authoritative).


Sikap tegas dan bijaksana seperti kisah majikan dan pegawainya, bisa juga terjadi antara orang tua dan anak  saat berinteraksi dalam berbagai peristiwa sehari-hari di rumah.



Dari kisah di atas, ada 2 ketrampilan yang harus juga bisa dikuasai oleh orang tua, yaitu:

1) Ketrampilan #1 
Menyampaikan pesan dalam bentuk "I- messages" (pesan saya).
Jika kita lihat pada pebisnis yang terlalu keras, dia berkata kepada pegawainya dengan cukup keras "kamu keterlaluan, kamu sangat tidak bertanggung jawab!" Sikapnya  menyalahkan dan menyerang, ditambah lagi dengan intonasi yang menunjukkan kemarahan

            "Kamu memang bodoh !"
            "Kapan kamu bisa belajar !"
            "Kamu ceroboh sekali !"

Jika kita berbicara kepada anak seperti itu, mungkn perasaan mereka pun akan hancur, merasa dipermalukan. Mereka akan kehilangan rasa hormat pada orangtua mereka.

Jadi. apakah kita harus mendiamkan saja? Seperti yang dilakukan oleh pebisnis yang terlalu lemah? Tentu saja tidak, karena pebisnis yang lemah pun menjadi tidak dihormati oleh pegawainya. Dia akan menganggap majikannya pengecut.

Anak yang dibesarkan dengan orangtua yang permisif pun akan melihat bahwa mereka bisa mengatur  orangtua sesuai keinginan mereka.

Bagaimana dengan majikan yang tegas dan baik hati? Dia tidak menyalahkan atau mengkritik. Ia mengungkapkan perasaannya kepada pegawainya melalui 'I- message'
"Ketika saya tahu mesin tidak dimatikan saat libur kerja, saya merasa kecewa karena tagihan listrik pasti akan meningkat".

'I- message' menghargai setiap orang dan setiap anak. Anak- anak akan lebih terbuka untuk mendengar dan memperbaiki kesalahannya jika ia mendengar 'I- message' karena mereka merasa nyaman dan dihargai. Pada akhirnya anak pun  akan menghargai orangtuanya.

'I- message' bukan sebuah kritikan karena seseorang yang menyampaikan  dalam bentuk  'I-message'  berbicara pada dirinya sendiri bukan untuk menuding orang lain, berikut ini caranya:

          "Ketika............(utarakan apa yang terjadi)
          Saya merasa....(utarakan perasaan anda)
          Karena....(utarakan alasan mengapa perasaan anda demikian)

Contoh kasus dalam sebuah keluarga :
           
               Rani, 8 tahun, melempar bola di ruang keluarga
               "Ketika bola dilempar di dalam ruang keluarga
                Saya khawatir
                Karena bisa mengenai lampu dan memecahkannya


Saat penggunaan 'I-message' yang perlu diingat adalah gunakan intonasi yang wajar.
Kemudian, bagaimana jika Rani tetap melempar bola meski anda sebagai orangtua sudah mengingatkanya?

Haruskah mengulang kembali kalimat tersebut? Sebaiknya tidak perlu, karena pengulangan terus menerus  justru akan membuat anda terdorong untuk marah-marah. Juga akan membuat Rani kurang memperdulikan ucapan anda,dia akan menganggap bahwa aturan itu tidak berarti baginya.

'I- message' cukup satu kali saja, jika Rani tetap saja melempar bola di ruang keluarga berikan ia konsekuensi.

2) Ketrampilan #2
Memberikan Konsekuensi.

Dalam kisah pebisnis pertama dia mengatakan "Tidak boleh istirahat selama satu minggu" sebagai bentuk hukuman pada pegawainya. Hal ini justru membuat tidak ada pegawai yang tahan bekerja dengannya karena para pegawainya  selalu merasa diperlakukan dengan keras.

Dalam kasus Rani, jika saja Rani diberi hukuman "Tidak boleh lagi nonton TV!", ia mungkin segera berhenti melempar bola. Namun, apa dampaknya? Rani justru akan  marah, sakit hati, dan merasa sangat diabaikan. Bahkan bisa jadi ia masih melempar bola lagi ketika orangtuanya  tidak ada di ruang keluarga, atau mungkin ia malah bersikap menentang dan ingin membalas sikap orangtuanya.

Konsekuensi lebih efektif dalam jangka panjang

Majikan yang tegas dan baik hati mengatakan tentang konsekuensi kepada pegawainya : " jika mesin ini tidak dimatikan lagi, maka saya akan meminta kamu membayar kelebihan biaya listrik"
Berhasilkah?

Ya, namun tidak  secepat penggunaan hukuman ( seperti perkataan "tidak boleh istirahat !"). Pengalaman pegawai yang harus membayar listrik sebanyak 3 kali karena kelalaiannya pada akhirnya menyadarkan pegawai tersebut untuk tidak mengulangi lagiMeskipun membutuhkan waktu cukup lama, namun hasil yang dicapai adalah solusi yang jelas dan dengan cara saling  menghargai. Semua itu membuat pegawai tetap mau bekerja dengan senang hati, penuh tanggung jawan dan menjadi pekerja yang rajin.

Bagaimana konsekuensi yang harus diambil dengan kasus Rani?

Perlu diingat konsekuensi berbeda dengan hukuman. Konsekuensi dilakukan dengan sangat halus dan logis yaitu hanya berkaitan dengan perilaku yang salah. 

Jadi, perkataan seperti "tidak boleh nonton TV!" kurang pas dan tidak ada kaitannya dengan melempar bola di ruang keluarga. (Rani mungkin akan berpikir: tidak boleh nonton TV? Itu tidak adil !")

Lebih baik berikan konsekuensi kepada Rani : "jika kamu melempar bola di ruang keluarga lagi maka saya harus mengambil bolamu dan menahannya selama 8 menit (menitnya mengikuti usia Rani). Konsekuensi disampaikan dengan suara yang penuh perhatian dan hanya 1 kali diucapkan. 

Rani mungkin menggerutu : "Saya tidak suka tapi saya juga tidak mau kehilangan bola saya- mungkin lain kali saya harus lebih hati-hati lagi"

Rani akhirnya mendapatkan kembali bolanya setelah 8 menit. 

Jika ia mengulangi kembali, konsekuensi waktunya bisa ditambahkan lagi. Orangtua bisa katakan: "Saya rasa kok sulit sekali mengingatkan mu untuk tidak melempar bola di ruang keluarga, Saya akan menahan bola lagi hingga  12 menit. 

Dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya Rani harus menunggu bolanya kembali esok hari.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah: Awalnya perilaku Rani bisa jadi semakin buruk atau ia akan berteriak: "aku ga peduli! Masa bodo!" saat orang tua  menerapkan konsekuesi. 

Tindakan  Rani adalah menguji apakah sikap orangtuanya tegas atau lemah. Jadi, jangan menyerah. Jika Rani mendengar 'I-message' diikuti dengan  konsekuensi yang tidak terlalu berat, ia akan menyadari bahwa orangtuanya sudah bersikap tegas. Pada akhirnya, Rani akan bisa diajak kerjasama ketika mendengar pesan orangtuanya.

Berhati-hatilah !
Bahaya Menghukum (termasuk memukul)
  1. Anak menjadi takut kepada orangtuanya. Mereka tidak berani menceritakan masalah yang mereka alami.
  2. Anak belajar bahwa teriak dan hukuman adalah cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah ketika mereka berseteru dengan teman atau saudaranya sendiri.
  3. Anak yang lebih besar akan menjauhi orangtuanya bahkan mereka menjadi berani melawan orangtuanya.
  4. Anak cenderung akan semakin berbuat salah  agar bisa menghindari teguran orang tuanya.

                                                                    sumber: the parent's handbook by Don Dinkmeyer etc.